Akhir Bulan saatnya Review Kinerja. Ini 5 Indikator Krusial yang Wajib Kamu Lihat!

Bagikan artikel

Bagi para pelaku UMKM, akhir bulan bukan hanya soal menutup buku. Ini adalah momen paling krusial untuk review kinerja bulanan dan memastikan bisnis berjalan ke arah yang benar. Banyak pemilik usaha yang fokus pada “pokoknya laku”, padahal tanpa evaluasi bisnis secara rutin, usaha bisa terlihat baik di luar tetapi sebenarnya bocor di dalam.

Nah, biar evaluasimu lebih terarah, ada 5 Indikator Krusial untuk Kesehatan Bisnis yang wajib kamu cek setiap akhir bulan. Angka-angka ini bakal membantumu membaca kondisi usaha, mengambil keputusan, dan memprediksi masalah sebelum terjadi.

Yuk, kita bahas satu per satu dengan contoh nyata dan tips sederhana agar kamu bisa langsung praktik.

1. Total Penjualan Bulanan

Ini angka yang paling sering dilihat, tapi juga paling sering disalahartikan. Penjualan tinggi belum tentu berarti bisnis untung. Namun tetap, total penjualan jadi indikator apakah bisnismu tumbuh atau stagnan.

Kenapa penting?

  • Melihat pola naik-turun penjualan.
  • Membantu memprediksi kebutuhan stok bulan depan.
  • Menilai efektivitas promo dan campaign.

Contoh nyata:

Warung kopi A mencatat penjualan Rp24 juta di bulan Oktober. Ternyata ini turun dibanding September yang mencapai Rp30 juta. Setelah dicek, penyebabnya adalah stok menu signature habis di minggu ketiga.

Tips implementasi sederhana:

  • Bandingkan penjualan dengan 3 bulan terakhir.
  • Lihat produk mana yang paling tinggi kontribusinya.
  • Tracking menggunakan aplikasi POS supaya nggak hitung manual.

2. Profit Bersih (Laba Bersih)

Ini angka paling jujur yang menggambarkan kesehatan bisnis. Banyak UMKM kelihatannya ramai tapi ternyata “tekor diam-diam” karena profitnya kecil atau malah minus.

Kenapa penting?

  • Menentukan apakah usahamu layak diteruskan, di-scale up, atau direstrukturisasi.
  • Mengukur efektivitas biaya.
  • Menjadi dasar keputusan untuk investasi atau menambah stok.

Contoh nyata:

Toko roti B memiliki omzet Rp20 juta, tapi profit bersihnya hanya Rp1,2 juta. Setelah dievaluasi, biaya bahan baku dan operasional terlalu tinggi dan tidak terkontrol.

Tips implementasi sederhana:

  • Catat semua biaya harian (sekecil apapun).
  • Evaluasi margin tiap produk, bukan hanya total usaha.
  • Gunakan aplikasi yang bisa memisahkan omzet dan profit otomatis.

3. Stok Bergerak & Dead Stock

Stok adalah salah satu sumber kerugian terbesar UMKM. Produk yang tidak laku-laku = modal yang terdiam. Di sisi lain, stok cepat habis tapi tidak diprediksi malah bikin kehilangan potensi omzet.

Kenapa penting?

  • Mencegah kerugian akibat barang kadaluarsa atau rusak.
  • Menghindari kehabisan produk laris.
  • Melihat pola permintaan konsumen.

Contoh nyata:

Toko kelontong C menemukan bahwa 20% barang di gudang tidak bergerak selama 2 bulan. Nilainya mencapai Rp3 juta dengan modal “nganggur” yang seharusnya bisa diputar ke barang yang cepat laku.

Tips implementasi sederhana:

  • Buat daftar “produk paling laku” dan “produk mati”.
  • Kasih promo untuk dead stock daripada jadi rugi total.
  • Cek mutasi stok secara berkala, bukan hanya saat akhir tahun.

4. Biaya Operasional Bulanan

Biaya listrik, gaji, ongkir, bahan baku, transport, bahkan plastik — semuanya harus dihitung. Banyak UMKM bangkrut bukan karena kurang jualan, tapi karena biaya yang bocor di mana-mana.

Kenapa penting?

  • Membantu menentukan kebutuhan efisiensi.
  • Mengetahui apakah margin masih sehat.
  • Menghindari kebocoran biaya operasional yang tidak disadari.

Contoh nyata:

Kedai minuman D menghabiskan Rp1 juta per bulan hanya untuk plastik cup, karena tidak punya kontrol pemakaian. Ketika dihitung ulang dan diatur, biaya bisa ditekan hingga Rp650 ribu.

Tips implementasi sederhana:

  • Catat biaya per kategori (bahan baku, gaji, packaging, listrik, dll).
  • Cek tren biaya: Apakah naik setiap bulan?
  • Gunakan sistem kasir yang mencatat biaya otomatis.

5. Jumlah Pelanggan Aktif

Banyak UMKM fokus cari pelanggan baru, padahal pelanggan lama adalah sumber profit terbesar. Mengecek jumlah pelanggan aktif membantu menilai apakah bisnismu berkembang secara kualitas, bukan hanya kuantitas.

Kenapa penting?

  • Mengukur tingkat retensi.
  • Menentukan strategi CRM dan promo.
  • Mengetahui apakah pelayananmu efektif.

Contoh nyata:

Barbershop E punya 220 pelanggan dalam database, tapi yang kembali potong rambut bulan ini hanya 60 orang. Artinya retensi rendah dan perlu evaluasi pelayanan atau reminder schedule.

Tips implementasi sederhana:

  • Simpan nomor pelanggan (izin dulu).
  • Kirim reminder promo di akhir pekan.
  • Bangun sistem CRM sederhana agar pelanggan merasa diperhatikan.

Kesimpulan: 5 Angka Ini = Fondasi Kesehatan Bisnis

Melakukan review kinerja bulanan bukan hal rumit. Dengan rutin mengecek 5 angka ini membantu penjualan, profit bersih, stok bergerak, biaya operasional, dan pelanggan aktif. Jadi, kamu bisa melihat kondisi bisnis secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.

Evaluasi bisnis yang baik = keputusan bisnis yang lebih cerdas.

Kalau kamu capek setiap akhir bulan harus ngecek laporan manual, stok berantakan, atau catatan keuangan menumpuk, kamu bisa pertimbangkan memakai aplikasi seperti ULo. Semua laporan ini bisa muncul otomatis, rapi, dan tinggal klik untuk evaluasi. Biar kamu bisa fokus ke pengembangan bisnis, bukan ke pusingnya pembukuan.

Oleh : Rahma Setianing

Dapatkan Informasi Terbaru dari ULo!

Dapatkan informasi pembaruan produk, peluncuran fitur baru, dan peluang khusus.
Masukkan email Anda untuk tetap terhubung

Artikel Lainya